X-Calibur, Teleskop Peneliti Lubang Hitam

by imadenews
Lubang_Hitam_black_hole

Lubang_Hitam_black_holeSebuah teleskop baru dirancang meneliti lubang hitam. Peluncuran akan dilakukan bulan Oktober ini. Uniknya peluncuran tak menggunakan roket layaknya misi luar angkasa lainnya, X-Calibur akan diluncurkan menggunakan balon raksasa. Balon angkasa mampu menampung 747 pesawat jet tersebut akan naik pada ketinggian 120.000 meter setara 36.576 meter. Dari ketinggian itu X-Calibur akan berada di atmosfer bumi kemudian mencari keberadaan lubang hitam. Teleskop ini mencari lubang hitam menggunakan petunjuk sesuai teori Einstein, yakni Relativitas Umum.

Sebenarnya ilmuwan hendak meluncurkan X-Calibur sejak tahun lalu. Terkendala kondisi angin keinginan tersebut harus tertunda.

Jika perencanaan dan cuaca dalam kondisi baik, X-Calibur siap mengangkasa. Para ilmuwan di Washington University di St. Louis dan Columbia Scientific Ballon Facility NASA (CSBF) di Texas berencana meluncurkan balon di Fort Summer, New Mexico pertengahan September 2014 ini.

Henric Krawczynsk, profesor fisika di Washington University yang juga pemimpin proyek ini mengatakan bahwa belum ada tanggal resmi peluncuran [X-Calibur].

Teleskop X-Calibur merupakan jenis khusus yang disebut polarimeter, berguna mengukur polarisasi sinar X. Para astronom baru saja mempelajari energi tinggi polarisasi terjadi ketika cahaya sinar X memantul dan tersebar.

Gravitasi lubang hitam begitu kuat, tidak ada cahaya yang dapat melarikan diri dari tarikannya. Oleh karena itu, ketika X-Calibur melihat lubang hitam maka pencarian sinar X akan dipancarkan.

Scott Barthelmy, peneliti NASA di Goddard Space Flight Center, Greenbelt, Maryland mengatakan prosedur pra peluncuran begitu rumit, balon harus dikembangkan terlebih dahulu kemudian barulan X-Calibur dipersiapkan.

Columbia Scientific Balloon, fasilitas milik NASA akan mejadi tuan rumah siaran langsung peluncuran X-Calibur. Ilmuwan berharap balon ini akan memulai tugasnya meneliti lubang hitam sekitar 14 atau 15 September 2014.

(Elisabeth Novina, Sumber: Live Science)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More