Home Bali Dina Kala Paksa, Pesta Para Leak Saat Malam Tumpek Wayang

Dina Kala Paksa, Pesta Para Leak Saat Malam Tumpek Wayang

by imadenews
Malam Kala Paksa, Leak di Malam Tumpek Wayang

Pada saat Dina Kala Paksa atau saat sehari sebelum Tumpek Wayang, dalam dunia perLeakan, konon juga mengenal atraksi unjuk kebolehan di antara para paguyuban para penekun ilmu leak, hari tersebut adalah kesempatan para leak untuk unjuk kebolehan dari berbagai tingkatan, yang dibagi dari ilmu leak tingkat terendah sampai tertinggi.

Mereka mengadakan perang-perangan di angkasa yang jika dilihat dengan mata telanjang berupa bola api diudara dan berbagai macam unjuk kebolehan lainnya.

Atraksi para leak diadakan di beberapa tempat seperti kuburan atau perempatan dan dulu katanya dapat dilihat dengan mata telanjang, unjuk kebolehan para leak ini biasanya diadakan setiap enam bulan sekali yaitu setiap malam sehari sebelum Tumpek Wayang dikenal sebagai malam ‘Kala Paksa‘ adalah malam keramat bagi penganut ilmu leak karena malam Kala Paksa ini Dewa Brahma memberi anugrah kepada Bhatara Kala agar boleh memangsa segala makhluk yang lahir pada hari yang bertepatan dengan Wuku Wayang dalam kalender Bali.

Secara tradisi, orang Bali menyebutnya sebagai dina atau hari kala paksa atau dina ala paksa. Di beberapa tempat sering pula disebut sebagai hari pamagpag kala. Orang Bali meyakini, dina kala paksa, sehari sebelum Tumpek Wayang adalah hari yang tenget atau angker atau leteh, kotor. Hari ini dipercaya sebagai puncak kekotoran dunia (rahina cemer).

Pada malam ini para leak akan bersembahyang dan menghaturkan sesajen di Pura Dalem dan di Pura Merajapati meminta izin agar acara lancar,  kemudian para leak akan berubah wujud seperti rangda, naga, monyet dan lain-lainnya.

Selanjutnya mengadakan rapat dan pesta mayat di kuburan atau bangkai hewan dan meminum darahnya, dalam pesta inilah biasanya dilakukan atraksi unjuk kebolehan dari berbagai tingkatan ilmu leak, konon para leak sangat senang dan antusias mengisi acara tersebut.

Saat para leak melakukan unjuk kebolehan, orang awam akan melihatnya dalam bentuk endih atau semacam bola api yang berbagai warna yang berterbangan di langit. Langit dipenuhi cahaya bola api yang terbang ke angkasa menukik dan bisa berbenturan dengan bola api lainnya.

Biasanya atraksi semacam ini seperti mengadu kesaktian antar leak dari berbagai Desa, adu kesaktian ini hanya ajang kontestasi dan sangat jarang sekali adu kesaktian sampai mati, sekarang hal seperti ini cuma bisa dilihat di desa terpencil yang kurang pencahayaan, kondisi Bali terus maju membuat kontes para leak saat malam Tumpek Wayang jadi pindah saat hari raya Nyepi karena saat itu Bali dalam keadaan gelap gulita tanpa lampu itu pun sangat jarang dilihat.

Ritual Sesaji petralisir kekuatan buruk saat Kala Paksa

Lontar Sundarigama, sebagaimana dikutip IBP Sudarsana dalam buku Acara Agama Hindu, menyebut saat dina kala paksa, umat mesti mempersembahkan sesaji khusus sebagai simbol menetralisir kekuatan buruk.

Salah satu persembahan yang khas di hari kala paka, yakni sesuuk berupa daun pandan berduri yang diolesi kapur sirih. Daun pandan berduri itu biasanya dipotong-potong sepanjang sekitar 5 cm, lalu diolesi kapur sirih dengan tanda tapak dara (tanda silang).

Selain dipasang pada setiap palinggih, daun pandan berdiri yang sudah dipotong-potong dan dioleasi tanda tapak dara dengan kapur sirih itu diletakkan dalam sebuah sidi (nyiru) disertai benang tridatu (tiga warna: merah, hitam, dan putih).

Pada nyiru itu juga diisi takir diisi triketuka (mesui, kesuna dan jangu) dan canang sari. Selain itu, dilengkapi juga dengan api dakep (api yang dihasilkan dari sabut kelapa yang disilangkan).

Di akhir upacara, sesaji ini ditaruh di tanah di depan pintu masuk masuk (lebuh). Ada juga yang membuangnya di tempat pembuangan sampah. Ritual ini biasanya dilaksanakan pagi hari.

Tak hanya itu, pada dada masing-masing umat juga diisi tanda tapak dara menggunakan kapur sirih. Sesaji ini, menurut IBP Sudarsana, sebagai simbol penetralisir kekuatan buruk dina kala paksa.

Doa yang dilantunkan selama prosesi ritual ini, memohon keselamatan agar energi buruk menjelma energi baik sehingga memberi manfaat dan kesejahteraan bagi umat manusia. Orang-orang awam awam biasanya menyatakan ritual khusus pada hari dina kala paksa sebagai sebentuk pengharapan agar manusia tidak dimangsa kala.

Dikutip dari Berbagai Sumber, PayanaDewa Blog, Balisaja, @calonarangtaksu.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More